web 2.0

Wednesday, March 7, 2012

Internet Asrama

Hampir seminggu internet asrama, dan kemarin akhirnya hidup lagi. Modem bawaan dari telkom memang  kualitasnya agak rendah, karena tidak kuat dengan perubahan listrik yang cukup ekstrem. karena ini sudah masuk musim penghujan jadilah banyak petir berkeliaran di luar sana. modem kami tak lepas juga dari amukan petir. anak-anak pada kelabakan karena gara-gara petir akses internet mati total.

seperti biasa kalau ada masalah yang berurusan dengan teknologi ane yang jadi sasaran tembak untuk memperbaiki. mau gimana lagi, yang lainnya diajarin kagak mau. saatnya pahlawan turun tangan mengatasi semuanya dan menghilangkan kegalauan anak-anak yang g bisa ngenet #haha *soksokan..

alat yang harus diganti adalah Modem ADSL, dan Wireless routernya. buat beli dua alat ini harus merogoh kocek cukup dalam. duh sekarang mahal ye. 400 ribu melayang berganti ADSL sama Wireless router. modem diset dengan akun dari speedy masukin password dan semuanya beres seperti semula.

VIP Connection
karena masih ada stok wireless outdoor yang biasanya buat instalasi jaringan 6 km nganggur, sepertinya ini bisa dimanfaatkan untuk VIP connection khusus pengurus asrama. ambil jaringan dari modem, antena ditembakkan ke balkon lantai dua, password khusus, dan layanan VIP dengan kecepatan khusus telah tersedia dari flat/blok pengurus. 

Alhamdulillah akses khusus wireless kecepatan tinggi tersedia, ya iyalah, pemancarnya aja biasa buat pemancar jarak jauh yang bisa ngirim data sampai 1 giga lebih...

mencari inspirasi pagi.. heits. salah..salah.... membuat inspirasi pagi.. :)

Friday, January 27, 2012

Peran Indonesia Dalam Perubahan Iklim: Antra Kepedulian Dan Kepentingan


Oleh: Achmad Fahmi*

Isu Global Warming merupakan isu yang hangat diperbincangkan oleh berbagai orang di penjuru dunia. Perubahan iklim yang mulai dirasakan di berbagai penjuru dunia, Anomali iklim dari banjir saat musim panas, musim dingin berkepanjangan, musim kemarau yang panjang, serta dampak lainnya.
Perubahan iklim dan Pemanasan Global juga tidak hanya berdampak pada kacaunya cuaca saja, melainkan dari dampak perubahan iklim, produktifitas dalam sector pertanian dan peternakan terganggu. Dan hal ini menyebabkan terganggunya ketahanan pangan dunia. Dampak dari hal ini juga menyebabkan ketidakstabilan harga bahan pangan yang menyebabkan perubahan fluktuatif ekonomi dunia.
Pemerintah Indonesia agaknya juga tidak mau ketinggalan dalam memberikan peran dalam isu perubahan iklim. Pada tahun 2007 lalu pemerintah Indonesia menyelenggarakan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) alias Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim itu akan berpusat di Bali International Convention Centre (BICC). Acara ini memakan biaya besar, dari harian tempo dirilis bahwa kegiatan ini menghasilkan dana sebesar 114 Miliyar Rupiah.
Selain melalui konferensi tersebut pemerintah Indonesia juga aktif dalam menyampaikan isu yang sama dalam berbagai pertemuan internasional. Dari keaktifan Indonesia dalam membahas isu ini, nama dan peran Indonesia dalam penanganan isu perubahan iklim melejit di pergaulan internasional. Tentunya ini merupakan sebuah keuntungan untuk pencitraan pemerintah Indonesia di tataran global, dibandingkan peran Indonesia di bidang lainnya.
Keuntungan Indonesia?
Mungkin tumbuh pertanyaan dibenak kita, sebenarnya keuntungan apa yang diperoleh Indonesia secara luas dalam isu perubahan iklim? Bukankah sektor-sektor lain harusnya lebih diperhatikan oleh pemerintah dibanding dengan isu perubahan iklim.
Data dari Handbook of Energy and Economic Statistics in Japan 2009, The EDMC Japan, menyebutkan bahwa emisi CO2 yang dikeluarkan Indonesia pertahun adalah 336 juta ton, sedangkan emisi CO2 rata-rata Negara di dunia adalah 27347 juta ton. Dari sisi jumlah emisi yang dilepaskan Indonesia masih jauh di bawah rata-rata pengeluaran emisi Negara-negara di dunia. Tapi kenapa pemerintah kita begitu getol dalam mengangkat isu ini? Mari kita bandingkan dengan sektor lain, dari sektor energy, electricity per capita Indonesia hanya 567 KWh, sedangkan rata-rata Electricity penduduk dunia 2610 KWh.
Dari perbandingan data di atas, terlihat jelas bahwa emisi carbon yang dilepaskan Indonesia masih jauh dibawah rata-rata penduduk dunia, namun perhatian pemerintah Indonesia mengenai sektor ini begitu besar.  Sedangkan sektor energy yang begitu besar pengaruhnya terhadap hajat hidup orang banyak tidak mengalami perlakuan yang sama.
Nampaknya motif politik dan keberterimaan di pergaulan internasional, serta posisi yang belum diambil oleh Negara lain dalam isu perubahan iklim, menjadikan pemerintah Indonesia mengambil peran ini. Selain itu jika wacana mengenai carbon tax behasil diratifikasi oleh negara lain, Indonesia akan mendapatkan kompensasi berupa dana dari negara-negara yang mempunyai emisi carbon tinggi karena Indonesia memiliki hutan hijau yang menyerap emisi carbon. Selain mendapatkan nama tenar dalam isu perubahan iklim, Indonesia juga akan mendapatkan kucuran dana sebagai tindak lanjut dari berlakunya carbon tax.
Masihkah kita percaya bahwa pengambilan peran tersebut karena ketulusan dan kepedulian lingkungan? Saya rasa tidak. Wa Allahu a’lam bishawab.

*Presiden Gama Cendekia UGM, Baktinusa DD UGM.

Monday, October 31, 2011

Amanah adalah konsekuensi punya mimpi besar

Terkadang menjadi orang yang bersikap dan bertindak berbeda dengan lingkungan sekitar (baca:aneh) bisa manjadi obat dari padatnya agenda, banyaknya tuntutan, dan banyaknya hal yang harus dipikirkan.
Rasanya kadang pengen kabur dari amanah yang sekarang sedang diemban, ditambah lagi ada-ada saja pekerjaan tambahan dari banyak tempat. hal saperti biasa muncul saat semangat sedang menurun dalam menjalankan amanah.

satu hal yang biasa menjadi pengembali semangat adalah beberapa tulisan yang tertempel, foto-foto proses memulai mimpi besar. jadi konsekuensi dari punya mimpi besar adalah Allah memberikan amanah yang pantas untuk orang yang bercita-cita besar juga, sehingga nantinya saat Allah mengabulkan impian kita. semuanya sudah dalam keadaan siap, baik siap secara kedewasaan maupun secara kecakapan.
Wa Allahu a'lam bishawab.

Tuesday, September 13, 2011

Capek?? entar dulu lah

"dakwah itu emang tempat bercapek-capek, Istirahatnya entar aja pas di surga" Ummi Yoyoh Yusroh

Sebuah quote yang memberi semangat kembali dalam menyampaikan kebaikan dan mencegah yang mungkar, apapun caranya, klo orientasinya untuk akhirat dan Allah, akan selalu ada energi tak terduga dari Allah.. sipp0

semangat membuat kebaikan, semangat berkarya, semangat mengemban amanah...


masih di Asrama LPI, depan kantor Ustadz.
semangat terus mas bro... :)

Saturday, September 10, 2011

Pernikahan Ali ibn Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra'

Bismillah.

Tujuan saya menulis artikel ini dengan pengetahuan terbatas, mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang menjadi bahan diskusi teman-teman plurker's Jogja (setidaknya cuma beberapa) mengenai Sirah kehidupan Ali ibn Abi Thalib Karamallahu Wajhah dan Fatimah az-Zahra' r.a, terutama dalam hal pernikahan antara keduanya.

Mohon kalau ada yang salah dalam menyampaikan diluruskan. Saya mengambil rujukan dari kitab Rijalun Wa Nisa'un Anzala Allahu Fihim Qur'ana (tokoh-tokoh yang diabadikan dalam al-Qur'an). Dan kalau ada rujukan yang lebih baik, mohon tidak usah segan membagi kepada kita semua, untuk kebaikan kita dalam bertukar ilmu. Mari ber-fastabiqul khairat.


Selamat menyimak.

Datanglah Abu Bakar ash-Shidiq r.a. yang meminta Fatimah untuk dijadikan istrinya. Rasulullah bersabda, "Hai Abu Bakar, tunggulah sampai ada keputusan"
Hal itu diceritakan Abu Bakar pada Umar.
Umar berkata, "Hai Abu Bakar, beliau menolak permintaanmu".
Abu bakar berkata pada Umar, "lamarlah Fatimah kepada Nabi"
Umarpun melamarnya. Ternyata beliau melontarkan perkataan seperti yang dikemukakan kepada Abu Bakar.
Umar menemui Abu Bakar seraya menceritakan hasilnya.
Abu bakar berkata, "Hai Umar, dia menolakmu"

Keluarga Ali berkata kepada Ali ibn Abi Thalib, "lamarlah Fatimah kepada Rasulullah"
Ali menjawab,"setelah Abu Bakar dan Umar ditolak?"
Akan tetapi, kerabatnya dari pihak Rasulullah terus mendorongnya.
Ali menemui Rasulullah dan memberi salam.
Beliau bertanya, "Ya Ibn Abu Thalib, ada perlu apa?"
Dia menjawab, "Aku terkenang pada Fatimah binti Rasulullah"
Beliau bersabda, "Marhaban wa Ahlan"
Beliau hanya menjawab demikian. Ali menemui sejumlah kelarganya dan orang Anshar yang sejak tadi menunggunya.
Mereka bertanya, “Bagaimana hasilnya?”
Ali menjawab, “aku tidak tahu, beliau hanya mengucapkan ‘marhaban wa ahlan’
Mereka berkata, “cukuplah sebagai tanda diterimanya lamaranmu salah satu perkataan rasulullah, Beliau memberimu istri dan  memberimu ucapan selamat” (at-Thabwat, VII:21)
Diterimalah lamaran Ali pada Fatimah. Tidak lama kemudian, diserahkanlah maharnya kepada Fatimah berupa baju besi yang sudah usang. Rasulullah memberikannya kepada Fatimah mewakili Ali. Beliau menjual unta dengan harga 480 dirham. Beliau bersabda, “belikanlah dua pertiga uang itu untuk makanan yang baik, dan sepertganya untuk pakaian”
Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya Nabi saw bersabda kepada Anas, “pergilah dan sampaikanlah undanganku kepada Abu Bakar, Umar, Usman, Thalhah, Zubair, dan beberapa orang Anshar
Aku berangkat untuk mengundang meraka. Setelah para undangan duduk di tempatnya masing-masing, beliau bersabda,
segala puji kepunyaan Allah yang terpuji karena nikmat-Nya, Yang disembah karena kekuasaan-Nya, Yang ditaati karena kekuasaan-Nya, Yang ditakuti siksa-Nya, dan Yang menerapkan urusan-Nya di langit dan bumi. Dia telah menciptakan makhluk dengan kekuasaan-Nya, menerangi meraka dengan hukum-hukum-Nya, memuliakan meraka dengan Agama-Nya, dan memuliakan mereka dengan nabi-Nya, yaitu Muhammad saw. Sesungguhnya Allah telah menjadikan hubungan karena perkawinan sebagai tali  keturunan tambahan, perintah yang difardhukan, hukum yang adil, dan kebaikan yang menyeluruh. Dengan hubungan itu,  kekerabatan diikat dan manusia diteguhkan. Allah ta’ala berfirman , “ Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia menjadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan Mushaharah, dan  adalah Tuhanmu Maha Kuasa (al-Furqan: 54)

Perintah allah bermuara pada qadha-Nya, qadha-nya bermuara ke qadar-Nya. Setiap batas akhir mempunyai ketentuan. Allah berfirman, “Allah menghapuskan apa yang dia Kehendaki dan menetapkan (apa yang dia kehendaki), dan disisi-Nya lah terhadap ummul-kitab (lauhul-mahfuzh)” (ar- ra’du: 39)

Allah ta’ala lalu menyuruhku agar mengawinkan Fatimah dengan Ali. Aku mempersaksikan kepada kalian bahwa sesungguhnya Aku menikahkan Fatimah kepada Ali dengan mahar 400 Mitsqal perak jika Ali menerima, berdasarkan sunnah yang berlaku dan kewajiban yang ditetapkan. Semoga Allah menyatukan keduanya, memberkati keduanya, membaguskan keturunannya, dan menjadikan keturunannya sebagai kunci rahmat, sumber hikmah, dan kepercayaan umat. Demikian aku menyampaikan ini. Aku meminta ampun kepada Allah untukku dan kalian” (Thabaqaat, Ibn Sa’ad, VII:15)

Anas berkata bahwa saat pernikahan itu, Ali sedang pergi untuk mengerjakan kepentingan Rasulullah saw. Beliau menyuruhku kami menghidangkan semangkuk kurma. Beliau meletakannya di depan kami. Orang-orang berkata “awas!” Tiba-tiba datanglah Ali. Rasulullah tersenyum kepadanya dan bersabda, “Hai Ali, Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk menikahkanmu dengan Fatimah dan aku telah menikahkanmu dengan maskawin 400 mitsqal perak”
Ali berkata, “Ya Rasulullah, Aku rela
Ali lalu merebahkan diri untuk bersujud sebgai rasa syukur kepada Allah. Setelah selesai, Rasulullah bersabda, “semoga Allah memberkati kamu berdua, menjadikan nasibmu bahagia, dan melahirkan keturunan yang banyak lagi baik” (Ibid, III:16)
Itulah pernikahan yang diberkati dan sederhana, tidak bergantung pada kekayaan yang banyak. Semoga sepenggal tulisan diatas dapat bermanfaat, dan jika ada kesalahan itu mutlak datang dari penulis yang masih mempunyai pengetahuan yang dangkal.
Semoga Allah melindungi kita dari fitnah, dan menguatkan diri kita semua dalam menjaga kehormatan sebagai seorang muslim, baik di hadapan-Nya maupun di hadapan manusia.
Allahumma arina al-haqqa haqqan, warzuqnatiba’a. wa arina al-batila batilan warzuqnajtinaba..Aamiin

Friday, May 20, 2011

Aktivis Prestatif Kontributif: Menyiapkan SDM Masa Depan Indonesia

Oleh: Achmad Fahmi
Mahasiswa Jurusan Sastra Asia Barat/ Presiden UKM Gama Cendekia UGM
Tantangan masa depan Indonesia ke depan akan sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, lompatan-lompatan teknologi, perubahan karakter pemuda, perubahan kondisi ekonomi, perubahan peta politik, serta meningkatnya kesadaran pendidikan Indonesia. Kondisi Indonesia pasca reformasi memberikan peta kegunaan aktivitis mahasiswa saat ini. Dalam hal ini saya sepakat dengan pendapat bahwa lahirnya suatu peradaban pasti didahului dengan lahirnya tradisi keilmuan yang kuat.
Kecintaan akan pengorbanan tidak mungkin muncul dalam diri seseorang atau masyarakat, jika tidak didahului dengan tumbuhnya tradisi ilmu dan kecintaan pada ilmu yang benar di masyarakat, tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului kebangkitan tradisi keilmuan. Melihat fakta ini peran aktivis ke depan tidak lagi hanya berkutat dalam masalah advokasi masyarakat saja, atau tidak hanya demonstrasi dengan mengabaikan studinya. Tidak jarang kita melihat aktivis mahasiswa yang mempunyai kegiatan padat namun prestasinya secara akademik menurun. Di sisi lain juga banyak mahasi

Friday, March 18, 2011

Media Massa Memang Pintar (ngrubah seenaknya)

Editing memang hal yang lumrah dalam setiap pelaksanaan pekerjaan media, baik itu media cetak maupun elektronik. kegiatan ini merupakan sensor pertama kali dari pihak produsen mengenai baik buruknya suatu hasil karya media sebelum dilepas ke masyarakat penikmat media.

nah, minggu ini aku berkesempatan menulis di media massa, kali ini mengangkat hasil dari festival yang aku ikut di dalamnya. isinya kurang lebih 5w+1H dari kegiatan yang aku dan teman-teman ikuti, yakni FESCO (Festival of Colour of the World) di malaysia...

dari semua press release yang aku kirim ke media massa, semuanya mengalami penyuntingan, memang penyuntingan itu penting, tapi kalau sudah merubah inti berita dan merubah pengemasan menjadi lebih menarik namun tak sesuai dengan kenyataan. ya, menurutku itu sudah salah.

kok bisa?? dari beberapa penyuntingan yang dilakukan oleh beberapa media massa, antara lain adalah,

1. pengubahan kalimat tidak langsung menjadi kalimat langsung, pengubahan kalimat menjadi kalimat langsung bisa menunjukan seolah-olah pihak media massa melakukan wawancara secara langsung, padahal tidak pernah dilakukan wawancara sama sekali. aku hanya mengirim naskah ke kantor media massa, itu tok,,,, ndak lebih..dan ndak ada apa-apa.

2. menambahkan konten pada tulisan yang akan dipublish, penambahan konten isi yang seharusnya memang dilakukan ini membuat seolah-olah benar-benar mewawancarai dari pihak yang dianggap bagus oleh masyarakat... dalam kasus ini (tulisanku yang dimuat dimedia) ditambahi konten, "menurut Achmad Fahmi, ketua rombongan". kenyataannya aku bukan ketua rombngan dan bukan siapa-siapa (atau sengaja tidak menjadi siapa-siapa), aku hanya menulis.

ya, itulah media massa, mungkin hal kecil semacam itu tak apa, dalam artian supaya kontennya bisa bertambah kuat dan berbobot. namun kalau sudah tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. itulah masalahnya... itu baru sedikit yang dirubah, klo diplintir malah bisa bikin banyak masalah lagi.... seperti kasus beberapa saat yang lalu, salah satu media yang memelintir perkataan presiden.. dan hasilnya, hampir satu minggu, berita itu menjadi hal yang kontroversial

hal-hal kecil memang bisa membuat suatu hal menjadi besar, bahkan meruntuhkan hal yang besar.... maka sebuah ketelitian adalah menjadi suatu yang mutlak untuk menghindari kesalahan yang tidak diinginkan. 

Ketika Insomnia Melanda, Perpustakaan pesantren Peradaban LPI